Waspadai Alergi Kacang Dapat Ancam Jiwa

Waspadai Alergi Kacang Dapat Ancam Jiwa

Widodo Judarwanto. Children Allergy Online Clinic, Jakarta Indonesia

Alergi kacang umum terjadi dan sering muncul di tahun-tahun awal kehidupan bayi. Reaksi alergi terhadap kacang tanah dapat berkisar dari iritasi kecil yang mengancam jiwa yang disebut reaksi anafilaksis. Bahkan orang-orang yang hanya memiliki reaksi ringan di masa kecil beresiko masa depan yang lebih serius reaksi.

Alergi makanan di Amerika Serikat adalah fenomena yang terus berkembang. Jumlah anak yang menderita alergi bertambah 18% dari tahun 1997 hingga 2007. Per April 2011, ada 8% anak yang menderita alergi.

Di Amerika Serikat, setiap tahun 150 orang dari semua lapisan umur meninggal akibat alergi makanan. Penyebabnya didominasi oleh alergi kacang-kacangan (80-90%).

National Institute of Health memperkirakan kasus anafilaksis yang terjadi di Amerika Serikat mencapai 15 hingga 30 ribu setiap tahun dan hanya seratus yang sampai menyebabkan kematian. Sementara itu di Inggris sekitar dua persen populasi warganya menderita alergi makanan yang berat berupa reaksi anafilaksi yang dapat mengancam jiwa. Beberapa studi menunjukkan jumlah kasus ini meningkat dua kali lipat setiap 10 tahun sejak 1980-an. Namun, belum jelas pemicu kondisi ini.

Tak ada pengobatan yang tersedia untuk alergi. Reaksi parah yang muncul sering kali terjadi penyempitan saluran pernapasan secara tiba-tiba, penurunan tekanan darah, syok, dan akhirnya kehilangan kesadaran atau bahkan berujung pada kematian.

Jika anak mengalami alergi kacang tanah – atau seorang dewasa yang telah memiliki reaksi – sebaiknya konsultasi ke dokter. Pengujian dapat membantu memastikan alergi kacang, sehingga dapat diambil langkah-langkah untuk menghindari potensi reaksi buruk di tubuh di masa depan.

Kacang bisa menjadi pencetus alergi karena mengandung 19 jenis protein, salah satunya arachin yang dikenal sebagai pencetus alergi nomor satu. Selain direbus, kukus dan goreng, penggunaan kacang sebagai bahan makanan sangat luas , seperti menjadi bahan tempe, tahu, kecap, dan tepung campuran (flour mix) yang merupakan bahan pembuat kue dan roti. Ada pula yang disebut cross contaminations, yaitu meski tidak mengandung kacang, tapi dalam pengolahannya mungkin terkontaminasi kacang, seperti permen, kue, bumbu dan saus.

Tanda dan Gejala

  • Reaksi kulit seperti gatal-gatal, kemerahan atau pembengkakan
  • Gatal-gatal atau kesemutan di dalam atau di sekitar mulut dan tenggorokan sehingga mengakibatkan kesulitan menelan, sesak dan jalan napasnya tersumbat
  • Gangguan saluran cerna seperti diare, sulit BAB, nyeri perut, mual atau muntah
  • Sesak napas atau mengi
  • Hidung Berair atau tersumbat

Anafilkasis Ancam Jiwa

Di Amerika, nyawa seorang gadis kecil melayang karena reaksi anafilaksis, diduga akibat makan makanan yang mengandung kacang. Anafilaksis merupakan reaksi alergi yang sangat berat, di mana sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan dan reaksi peradangan pada jaringan saluran napas, pembuluh darah dan jantung yang berpotensi mematikan. Alergi kacang adalah penyebab kematian paling umum dari jenis alergi makanan lainnya.

Ammaria Johnson, seorang anak usia 7 tahun yang bersekolah di Chesterfield Schools, Virginia. Saat di sekolah tiba-tiba ia berlari sambil menangis ke arah seorang guru. Ammaria mengatakan dia telah memakan sesuatu, dan lehernya terasa sakit karena susah bernafas.

Awalnya ia dibawa ke unit kesehatan sekolah, kemudian pihak sekolah menelepon paramedis. Ternyata klinik itu tidak punya obat untuk mengobati reaksi alergi Ammaria. Pihak klinik menelepon 911. Tak lama kemudian, denyut jantung Ammaria berhenti dan nyawanya tak tertolong lagi.

Penyebab kematiannya hingga saat ini belum diketahui. Namun alergi kacang yang ia derita diduga menjadi biang keladinya. Menurut Laura Pendelton, ibu Ammaria, sejak awal masuk ia telah memberi tahu pihak sekolah bahwa anaknya menderita alergi parah. Ia membawa obat-obatan yang dapat mengobati alergi seperti Benadryl dan EpiPen, serta Albuterol untuk asma. Namun saat itu pihak sekolah menyuruh Laura membawa pulang obat tersebut karena di sana sudah ada perlengkapan untuk menanggulangi kejadian darurat.

Kasus menyedihkan lainnya terjadi pada Ashley Gillies, 16, jatuh terkapar sekitar 30 menit usai menyantap pasta panggang bertabur cornflake buatan ayahnya. Tenggorokannya pun mendadak bengkak disertai sesak napas serius. Sementara kulitnya memerah seperti terkena luka bakar. Remaja asal Desborough, Northants itu rupanya tak menyadari bahwa cornflake termasuk sereal yang mengandung kacang. Ashley mengalami alergi berat terhadap kacang sejak balita, yang disebut anafilaksis. Tak hanya ketika menyantap kacang, ia juga akan menunjukkan reaksi buruk saat mendapat sentuhan fisik dari seseorang yang baru saja melahap kacang.

Ashley mengalami alergi berat terhadap kacang sejak balita, yang disebut anafilaksis. Tak hanya ketika menyantap kacang, ia juga akan menunjukkan reaksi buruk saat mendapat sentuhan fisik dari seseorang yang baru saja melahap kacang.

Kematian akibat alergi makanan dapat dicegah. Anak-anak yang tewas akibat alergi makanan memiliki kesamaan: menderita asma, alergi kacang, dan terlambat mendapat suntikan epinephrine yang dapat menghentikan reaksi alergi fatal. Meski sudah ada kebijakan ‘nut free’ di beberapa sekolah. Guru atau dokter sekolah harus selalu siap dengan suntikan epinephrine untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Beruntung orangtuanya kala itu bergerak cepat membawa ke rumah sakit. Kondisinya pun perlahan membalik setelah dokter memberinya cairan infus mengandung obat antialergi. Ashley menunjukkan reaksi alergi ketika pertama kali merasakan snack kacang di sebuah pesta. Ashley yang kala itu masih berusia tiga tahun segera memperlihatkan kulit yang meradang cukup parah.

Sebelumnya pernah suatu saat ayahnya menyentuh wajah Ashley, dan spontan kulitnya juga terbakar dalam hitungan detik. Kondisi Ashley tak bisa disembuhkan. Ashley harus selalu membawa EpiPen, perangkat untuk menyuntikkan obat anti-anafilaksis, epinefrin, dalam kondisi darurat. Ashley harus berhati-hati ketika ke kebun binatang karena banyak orang memberi makan burung dengan kacang. Dan, memasuki remaja, ia juga harus bertanya apakah pacarnya memakan kacang sebelum menciumnya.
Ashley Gillies, 16, jatuh terkapar sekitar 30 menit usai menyantap pasta panggang bertabur cornflake buatan ayahnya. Tenggorokannya pun mendadak bengkak disertai sesak napas serius. Sementara kulitnya memerah seperti terkena luka bakar.

Seperti dikutip dari Daily Mail, peristiwa menegangkan itu terjadi tiga tahun lalu. Remaja asal Desborough, Northants itu rupanya tak menyadari bahwa cornflake termasuk sereal yang mengandung kacang.

Ashley mengalami alergi berat terhadap kacang sejak balita, yang disebut anafilaksis. Tak hanya ketika menyantap kacang, ia juga akan menunjukkan reaksi buruk saat mendapat sentuhan fisik dari seseorang yang baru saja melahap kacang.

Penanganan dan Pencegahan

Penanganan terbaik alergi kacang bukan dengan obat-obatan tetapi harus menghindari kacang tanah dan kacang protein sama sekali. Tapi menghindari sama sekali kacang tanah tampaknya sulit sebab bayak makanan mengandung kacang.

Perlu diketahui kebanyakan reaksi terhadap kacang tidak mengancam jiwa jika cepat ditangani. Obat, seperti antihistamin, dapat mengurangi gejala ringan alergi kacang.  Obat ini dapat dikonsumsi setelah terkena kacang untuk membantu menghilangkan gatal-gatal. Namun, antihistamin tidak cukup untuk mengobati aelergi parah.

Kacang sering kali hadir melengkapi masakan atau dikonsumsi sebagai camilan. Namun tak jarang terdengar bahwa makanan kaya protein ini menyebabkan alergi pada seseorang. Alergi kacang adalah salah satu dari delapan jenis alergi makanan yang umum terjadi.

Dalam waktu terakhir ini terdapat upaya medis dalam memperkecil alergi terhadap jenis kudapan renyah ini dengan trik sistem kekebalan tubuh. Secara teknis, sebenarnya bukan kacang yang menjadikan tubuh kita mengalami alergi, melainkan reaksi ekstrem sistem kekebalan tubuh kita terhadap kacang yang dikenal dengan anafilaksis.

Peneliti dari Universitas Northwestern di Chicago telah menemukan solusinya. Kuncinya hanyalah bagaimana menemukan cara respons pendek pada sirkuit sistem kekebalan tubuh terhadap protein kacang. Peneliti telah melakukan percobaan dengan melekatkan protein kacang pada sel-sel darah, yang kemudian diperkenalkan kembali ke tubuh. Sel T dalam sistem kekebalan tubuh kemudian mengenali sel darah yang telah ditempeli protein kacang tersebut sehingga mulai membangun toleransi terhadap protein ini.

Metode ini sebenarnya telah digunakan sebelumnya untuk mengobati penyakit otoimun. Dan saat ini para peneliti memodifikasinya untuk serangan alergi terhadap makanan. Mereka telah menguji mekanisme ini dalam tubuh tikus. Protein kacang ditempatkan pada leukosit dan memasukkannya kembali dalam tubuh tikus. Hanya dua kali perlakuan, ternyata tikus mampu memakan kacang tanpa reaksi alergi. Metode tersebut merupakan cara baru yang menarikyang bsa mengatur penyakit alergi dan memutusan tindakan klinis untuk pasien.

Untuk mengendalikan alergi akibat mengonsumsi kacang, hindari makan kacang dan hidangan yang terkontaminasi kacang. Keterangan “may contain nuts”, “produced on shared equipment with nuts or peanuts” atau “produce in a facility that also processes nuts” pada kemasan menunjukkan produk tersebut mengandung atau bisa terkontaminasi kacang. Ganti nutrisi dari kacang-kacangan dengan makanan lain seperti beras, jagung, dan gandum.

Provided by

CHILDREN ALLERGY CLINIC ONLINE

Yudhasmara Foundation htpp://www.allergyclinic.wordpress.com/

WORKING TOGETHER FOR STRONGER, SMARTER AND HEALTHIER CHILDREN BY EDUCATION, CLINICAL INTERVENTION, RESEARCH AND INFORMATION NETWORKING. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult

CLINICAL INTERVENTION AND MEDICAL SERVICES “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

PROFESSIONAL CLINIC “CHILDREN GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation
  • Dr Widodo Judarwanto SpA, Pediatrician
  • Fisioterapis

Clinical and Editor in Chief :

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician email : judarwanto@gmail.com, Curiculum Vitae

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.

Copyright © 2012, Children Allergy Clinic Online Information Education Network. All rights reserved

Iklan

One response to “Waspadai Alergi Kacang Dapat Ancam Jiwa

  1. tq for sharing,,,im malaysian,,,one of ny niece mengidap alergi kekacang dan coklat…..anyway,,your website was very helping,,,tqvm…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s