Anak Tidak Bisa Diam, Hiperaktif dan Anak Kurus atau Sulit Makan

Anak Tidak Bisa Diam, Hiperaktif dan Anak Kurus atau Sulit Makan

“Betulkah Dok anak saya sulit naik berat badan dan sulit makan mungkin karena anaknya tidak bisa diam dan banyak bergerak ? Pertanyaan dan opini tersebut banyak masih dianut oleh orangtua bahkan sebagian klinisi bahwa anak sulit naik beratnya karena tidak bisa diam. Ternyata hipotesa itu tidak sepenuhnya benar. Dari penelitian menyebutkan bahwa anak sulit makan dan sulit naik berat badannya karena memang sering mengalami aktifitas motorik yang berlebihan karena disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna. Yang lebih utama justru karena kesulitan makan yang membuat gangguan kenaikkan berat badan. Penelitian di Picky Eaters Clinic Jakarta menyebutkan bahwa anak dengan kesulitan makan sering disertai beberapa gangguan perilaku mulai dari yang ringan sampai yang tidak ringan. Diantaranya adalah meningkatnya aktifitas dan gerakan motorik sehingga anak sangat aktif dan tidak bisa diam.

Gangguan kenaikkan berat badan dan pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Gangguan kenaikkan berat badan dan faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya.

Gangguan kenaikkan berat badan dan kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.

Dengan penanganan gangguan kenaikkan berat badan dan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.

Kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.

Gejala gerakan dan aktivitas motorik yang tinggi

  • perilaku anak yang tidak bisa diam.
  • Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
  • Anak tidak bisa diam, banyak bergerak, Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” anak perempuan main bola, memanjat dll.
  • Sering merasa gelisah tampak pada  tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk.
  • Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada  dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )
  • Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang. isering berperilaku seperti mengendarai motor Sering berbicara berlebihan
  • Tidak bisa duduk tenang
  • Selalu bergerak
  • Tangan dan kaki tak bisa diam
  • Suka berlari-larian
  • Kerap berlompat-lompatan, lebih dari anak lain
  • Gelisah

Sering disertai Inatensi dan impulsif Gejala Waktu konsentrasi dan perhatian yang pendek (inatensi):

  • Tidak bisa memusatkan perhatian pada guru di kelas
  • Tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan
  • Perhatian mudah sekali terganggu dan beralih ke hal lain
  • Karena perhatian yang tidak penuh, pekerjaannya lambat selesai
  • Cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar.
  • Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”
  • Tetapi anak sangat Cerdas

Emosi tinggi dan Tingkah laku yang tidak terkontrol (impulsive):

  • Tidak sabar
  • Semua kemauan harus diikuti
  • Tidak bisa mengantri
  • Suka memotong pembicaraan orang lain
  • Suka mengganggu teman lain/usil.
  • EMOSI TINGGI mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum),
  • Keras kepala, Suka membantah atau negatifisme
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”)

Anak sulit makan Sering disertai Perilaku lainnya

  • GANGGUAN TIDUR MALAM : tidur larut malam, bolak-balik ujung ke ujung, “nungging”, berbicara, tertawa,berteriak saat tidur, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi”(bruxism)
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu  tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK:Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak, berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh /menabrak,duduk leter”W”, jalan ”pincang” sesaat
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tertentu) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, mudah geli, tumpuan kaki tidak seimbang).
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).

Gangguan Saluran Cerna dan Rangsangan Ke Otak

Gangguan fungsi pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting pada penderita gangguan kenaikkan berat badan dan sulitan makan. Gangguan fungsi saluran cerna kronis yang terjadi seperti alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan sebagainya. Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai penyebab utama gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru. Penelitian yang dilakukan di Picky Eater Clinic Jakarta menunjukkan, setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu pada 218 anak dengan gangguan kenaikkan berat badan dan kesulitan makan dengan gangguan intoleransi makanan, alergi makanan, penyakit coeliac, Setelah dilakukan penghindaran makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. Gangguan saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 30%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring dengan pertambahan usia.

Reaksi simpang makanan terjadi pada kelainan bawaan atau genetik seperti alergi makanan, penyakit celiac, intoleransi makanan dan sebagainya biasanya bersifat kronis atau berlangsung lama. Gangguan perilaku yang diduga bersifat genetik seperti Autism, ADHD dan gangguan perilaku lainnya juga sangat berkaitan dengan gangguan metabolisme makanan dan pemberian makanan tertentu. Banyak penelitian menunjukkan dengan melakukan penghindaran makanan tertentu maka gejala gangguan fungsi tubuh dan perilaku dapat diminimallkan.

Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sensitifitas terhadap makanan tertentu mengakibatkan gangguan  permeabilitas (kebocoran) pada saluran cerna atau leaky gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis ternyata dapat mengganggu susunan saraf pusat manusia. Gangguan saluran cerna tersebut berkaitan gangguan penyerapan dan metabolisme makanan tertentu yang mengakibatkan gangguan beberapa sistem tubuh khususnya susunan saraf pusat atau otak.

Mekanisme bagaimana gangguan saluran cerna mengganggu system susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun ada beberapa teori  mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah teori teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis), pengaruh metabolisme sulfat, gangguan organ sasaran, dan pengaruh reaksi hormonal pada alergi.

Teori gangguan pencernaan  berkaitan dengan sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak adalah :Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV).  pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang  otak. Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.

Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi, yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut berulang pada penderita  berhubungan dengan kejadian epilepsi.

Alergi sebagai salah satu penyebab reaksi simpang makanan adalah suatu proses inflamasi. Reaksi alergi tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks. Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat  mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran. Otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama yang kompleks.

Seperti pada  penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan  kulit (gatal) pada penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan  zat kimiawi dan beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat mengganggu otak.

Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak  penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan, panik

Berbagai teori  menjelaskan hubungan antara aktifitas berlebihan dan anoreksia nervosa.  Eisler dan Le Grande mengungkapkan empat konsep teori untuk menjelaskan hubungan antara hiperaktivitas dan anoreksia nervosa. Pertama, olahraga yang berlebihan dapat dianggap sebagai gejala anoreksia nervosa. Hal ini juga dapat mempromosikan perkembangan gangguan makan. Anorexia nervosa dan hiperaktif bisa menjadi manifestasi dari gangguan kejiwaan lainnya. Setidaknya, hiperaktif dapat menjadi varian dari anorexia nervosa, yang memiliki efek yang sama, seperti penurunan berat badan. Hiperaktif juga dapat dianggap sebagai semacam gangguan obsesif kompulsif. Hiperaktif dan gangguan obsesif kompulsif benar-benar berbagi beberapa karakteristik klinis dan neurokimia. Teori lainnya terdiri dalam membandingkan latihan berlebihan dalam anorexia nervosa ke perilaku adiktif. Self-kelaparan diperburuk oleh hiperaktif dapat dianggap sebagai kecanduan opioid endogen. Beberapa penelitian yang dilakukan dalam rangka untuk memperkirakan prevalensi latihan tingkat tinggi dalam gangguan makan. Davis et al. telah mencapai studi prevalensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan anoreksia nervosa (80,8%) yang berolahraga berlebihan selama fase akut dari gangguan. Penelitian terhadap hewan, khususnya pada tikus, membawa kita model yang menarik menjelaskan interaksi antara anoreksia nervosa dan hiperaktivitas. Dengan obyel penelitian binatang, telah terlihat bahwa, ketika tikus dengan akses ke roda berjalan, dibatasi asupan makanan mereka, mereka menjadi terlalu aktif, dan secara paradoks mengurangi konsumsi makanan. Penelitian yang dilakukan Morse et dkk. telah menunjuk dari model hewan bahwa tingkat hiperaktif dikaitkan dengan tingkat keparahan pembatasan makanan. Hasil ini dapat dijelaskan oleh kegagalan bagian dari otak yang terlibat dalam regulasi istirahat dan aktivitas. Penelitian hewan membawa kita penjelasan tentang dampak kelaparan pada sistem endokrin dan neurotransmiter. Broocks dkk. telah menunjukkan bahwa konsentrasi corticosterone di plasma sinergis meningkat kelaparan setengah dan olahraga, dan pengurangan triiodothyronine karena kelaparan setengah secara signifikan lebih besar pada kelompok roda berjalan. Sebuah studi lain Broocks dkk. telah mengungkapkan metabolisme serotonin meningkat hipotalamus dengan efek gabungan dari pembatasan hiperaktif dan makanan. Triptofan, asam di tengah terlibat dalam sintesis serotonin, juga dapat berperan dalam pemeliharaan anoreksia nervosa. Dalam kondisi kelaparan, pelepas opioid yang disebabkan oleh latihan fisik akan mengurangi asupan makanan. Studi Exner dan satu Adan ini telah mengungkapkan bahwa leptin akan terlibat dalam kelaparan setengah diinduksi mekanisme hiperaktif. Meskipun model hewan tidak bisa sepenuhnya digeneralisasi untuk manusia, mereka berguna untuk mencoba untuk menjelaskan dukungan biologis hiperaktif. Hiperaktif tidak hanya strategi untuk menurunkan berat badan, tetapi juga merupakan gejala yang spesifik yang melengkapi triad klinis. Penelitian pada hewan telah menyebabkan hasil yang menjanjikan, dengan menggunakan obat-obatan, seperti serotonin reuptake inhibitor atau antagonis opioid dalam pengobatan hiperaktivitas pada anorexia nervosa.

PENATALAKSANAAN

Penanganan terbaik anak tidak bisa diam dan gangguan kenaikkan berat badan atau sulit makan ternyata dapat seiring. Pada penderita sulit makan dengan gangguan saluran cerna dengan melakukan intervensi reaksi simpang makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya maka keluhan sulit makan dan berbagai keluhan gangguan perilaku juga berkurang. Untuk mengetahui jenis reaksi simpang makanan, harus dilakukan anamnesis riwayat keluhan yang cermat, pemeriksaan fisik dan eliminasi provokasi. Disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratotium penunjang untuk membedakan apakah suatu alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit celiac atau reaksi makanan lainnya. Pemberian ensim, obat-obatan dan vitamin lainnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab reaksi simpang makanan tersebut. Mengenali secara cermat gejala reaksi simpang makanan dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gangguan pada saluran cerna, sistem susunan saraf pusat dan gangguan perilaku dapat dikurangi.

Penanganan anak tidak bisa diam, gangguan perilaku, gangguan kenaikkan berat badan atau gangguan sulit makan dan reaksi simpang makanan harus dilakukan secara holistik. Selain menghindari makanan penyebab maka diperlukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak. Bila perlu harus melibatkan bidang neurologi, psikiater, tumbuh kembang, endokrinologi, alergi, gastroenterologi  dan bidang ilmu kesehatan anak lainnya

Referensi:

  • Davis C. Eating disorders and hyperactivity: a psychobiological perspective. Can J Psychiatry. 1997 Mar;42(2):168-75.
  • Porfirio MC, et al. Attention-deficit hyperactivity disorder and binge eating disorder in a patient with 2q21.1-q22.2 deletion. Psychiatr Genet. 2012 Apr 18.
  • Uher R, et al. Recovery and chronicity in anorexia nervosa: brain activity associated with differential outcomes. Biol Psychiatry. 2003 Nov 1;54(9):934-42.
  • Hebebrand J, et al. Hyperactivity in patients with anorexia nervosa and in semistarved rats: evidence for a pivotal role of hypoleptinemia. Physiol Behav. 2003 Jun;79(1):25-37.

supported by

PICKY EATERS AND GROW UP CLINIC For Children, Teen and Adult(Klinik Khusus Sulit Makan dan Gangguan Berat Badan) GRoW UP CLINIC JAKARTAYudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
“GRoW UP CLINIC JAKARTA” For Children, Teen and Adult Focus and Interest on:

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967
  • Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
  • Fisioterapis dan terapi okupasi lainnya

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, Picky Eaters and Grow Up Clinic, Information Education Network. All rights reserved

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s