Gangguan Tidur Pada Anak Kurus dan Sulit Makan

Gangguan Tidur Pada Anak Kurus dan Sulit Makan

Banyak orang tua mengeluh bahwa anaknya seringkali sulit tidur malam atau gangguan tidur yang lain. Hal itu biasa terjadi sejak bayi hingga usia di atas 5 tahun. Hal itu sering dikeluhkan kepada dokter tetapi saat ini jarang sekali bisa dijelaskan dengan baik mengapa hal itu terjadi. Penyebab gangguan tidur sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tidur sering dialami oleh sekitar 70% anak dengan keluhan sulit makan dan anak kurus. Ternyata sebagian besar penyebab gangguan tidur pada anak disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna dipicu pengaruh alergi dan hipersensitifitas makanan. Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu gangguan sulit makan dan gangguan tidur yang ada selama ini menjadi membaik. secara bersamaan. Penderita gangguan kenaikkan berat badan dan sulit makan sebagian besar mengalami alergi dan hipersensitf saluran cerna

Gangguan tidur pada anak sulit makan biasanyan ditandai dengan tidur larut malam, bolak-balik ujung ke ujung, “nungging”, berbicara, tertawa,berteriak saat tidur, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi”(bruxism)

Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun terutama usia 2 tahun

Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.

  • Penelitian yang telah dilakukan dr Widodo Judarwanto SpA tahun 2004 yang telah diajukan dalam acara ilmiah internasional 24TH INTERNATIONAL CONGRESS OF PEDIATRICS CANCÚN MÉXICO AUGUST 15TH – 20TH 2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97% anak perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66%) anak mengalami insomnia food allergy, 12 (19%) anak dengan somnambulisme, 8 (13%) anak dengan night terror, 32(50%) anak dengan nocturnal myoclonus.

Amati Tanda Dan Gejala Gangguan tidur pada anak anda

  • Pada bayi : malam sering terbangun sering dikira haus atau sering dikira ASI ibu kurang sehingga minum ASI berlebihan, akibatnya BB anak naik berlebihan karena terlalu banyak minum.
  • Sulit untuk memulai tidur malam atau tidur larut malam
  • Tidur bolak-balik dari ujung ke ujung tempat tidur
  • Berbicara,tertawa,berteriak atau berjalan saat tidur
  • Mendadak terbangun duduk saat tidur kemdian tidur lagi
  • Mimpi buruk
  • “beradu gigi”  atau gigi gemeretak atau bruxism

Gangguan kenaikkan Berat badan dan Sulit Makan

Gangguan kenaikkan berat badan dan pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Gangguan kenaikkan berat badan dan faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya.

Gangguan kenaikkan berat badan dan kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.

Dengan penanganan gangguan kenaikkan berat badan dan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.

Kesulitan makan dan gangguan kenaikkan berat badan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.

Perilaku Pada Anak Kurus dan Sulit Makan

  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK:Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak, berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh /menabrak,duduk leter”W”, jalan ”pincang” sesaat
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tertentu) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, mudah geli, tumpuan kaki tidak seimbang).
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • Gejala gerakan dan aktivitas motorik yang tinggi :
  1. perilaku anak yang tidak bisa diam.
  2. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
  3. Anak tidak bisa diam, banyak bergerak, Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” anak perempuan main bola, memanjat dll.
  4. Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk.
  5. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan )
  6. Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang. isering berperilaku seperti mengendarai motor Sering berbicara berlebihan
  7. Tidak bisa duduk tenang
  8. Selalu bergerak
  9. Tangan dan kaki tak bisa diam
  10. Suka berlari-larian
  11. Kerap berlompat-lompatan, lebih dari anak lain
  12. Gelisah
  • Sering disertai Inatensi dan impulsif Gejala Waktu konsentrasi dan perhatian yang pendek (inatensi):
  1. Tidak bisa memusatkan perhatian pada guru di kelas
  2. Tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan
  3. Perhatian mudah sekali terganggu dan beralih ke hal lain
  4. Karena perhatian yang tidak penuh, pekerjaannya lambat selesai
  5. Cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar.
  6. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”
  7. Tetapi anak sangat Cerdas
  • Emosi tinggi, agresif dan Tingkah laku yang tidak terkontrol (impulsive):
  1. Tidak sabar
  2. Semua kemauan harus diikuti
  3. Tidak bisa mengantri
  4. Suka memotong pembicaraan orang lain
  5. Suka mengganggu teman lain/usil.
  6. Keras kepala, Suka membantah atau negatifisme
  7. AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (seperti “gemes”)

Gangguan Emosi berdasarkan Severitasnya

  • Gangguan Emosi Ringan Gangguan tingkat ringan biasanya tak terlalu kentara, saking tak kentaranya, orang tua sekalipun tak menyadari hal ini. Emosi anak akan terlihat biasa-biasa saja, meski jika ditilik lebih dalam, pertumbuhan emosinya tak sesuai dengan tahapan yang seharusnya dialami anak seusianya. Misal, diusia 4 tahin, anak seharusnya sudah mau berbagi dengan temannya, tetapi ia kerap marah ketika mainannya di pinjam. Atau diusia 5-6 tahun anak semestinya sudah berani tidur sendiri dikamarnya, namun ia menolak dengan alasan takut.
  • Gangguan Emosi Ringan Ditingkat sedang, gejala gangguan emosi lebih kentara. Anak bisa marah, takut, atau sedih terhadap hal-hal yang sebenarnya normal-normal saja pada anak-anak lain. Umpamanya, ketika mainannya dipinjam ia akan marah dan menyakiti anak yang mengambil mainannya, atau ketika ia diminta tidur sendirian, ia akan menolak keras dengan alasan takut. Penolakannya sangat kuat, dengan menangis, wajah pucat, atau mungkin marah kepada orangtuanya.
  • Gangguan Emosi Berat Gangguan emosi tingkat berat biasanya terlihat jelas. Hal ini karena perilaku anak tertinggal janggaldan tak biasa. Ketika marah, anak akan mengamuk, berteriak-teriak, bahkan menyakiti dirinya sendiri. Ketika ia takut terhadap sesuatu yang tak membahayakan dirinya, seperti kucing, kecoa, tikus, ruang sempit, gelap, ia akan terlihat pucat pasi, muncul keringat dingin, menjerit, menangis keras, dan lainnya. Atau ketika sedih, ia akan mengurung diri, menangis sendirian, melamun berkepanjangan, mudah menangis, dan lainnya

PENATALAKSANAAN

Penanganan terbaik gangguan tidur pada penderita gangguan kenaikkan berat badan atau sulit makan ternyata dapat seiring. Pada penderita sulit makan dengan gangguan saluran cerna dengan melakukan intervensi reaksi simpang makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya maka keluhan sulit makan dan berbagai keluhan gangguan tidur juga berkurang. Untuk mengetahui jenis reaksi simpang makanan, harus dilakukan anamnesis riwayat keluhan yang cermat, pemeriksaan fisik dan eliminasi provokasi. Disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratotium penunjang untuk membedakan apakah suatu alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit celiac atau reaksi makanan lainnya. Pemberian ensim, obat-obatan dan vitamin lainnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab reaksi simpang makanan tersebut. Mengenali secara cermat gejala reaksi simpang makanan dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gangguan pada saluran cerna, sistem susunan saraf pusat dan gangguan tidur dapat dikurangi.

Penanganan anak dengan gangguan tidur disertai gangguan kenaikkan berat badan atau gangguan sulit makan dan reaksi simpang makanan harus dilakukan secara holistik. Selain menghindari makanan penyebab maka diperlukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak. Bila perlu harus melibatkan bidang neurologi, psikiater, tumbuh kembang, endokrinologi, alergi, gastroenterologi dan bidang ilmu kesehatan anak lainnya

Referensi:

  • Davis C. Eating disorders and hyperactivity: a psychobiological perspective. Can J Psychiatry. 1997 Mar;42(2):168-75.
  • Porfirio MC, et al. Attention-deficit hyperactivity disorder and binge eating disorder in a patient with 2q21.1-q22.2 deletion. Psychiatr Genet. 2012 Apr 18.
  • Uher R, et al. Recovery and chronicity in anorexia nervosa: brain activity associated with differential outcomes. Biol Psychiatry. 2003 Nov 1;54(9):934-42.
  • Hebebrand J, et al. Hyperactivity in patients with anorexia nervosa and in semistarved rats: evidence for a pivotal role of hypoleptinemia. Physiol Behav. 2003 Jun;79(1):25-37.

supported by

PICKY EATERS AND GROW UP CLINIC For Children, Teen and Adult(Klinik Khusus Sulit Makan dan Gangguan Berat Badan) GRoW UP CLINIC JAKARTAYudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar

WORKING TOGETHER SUPPORT TO THE HEALTH OF ALL BY CLINICAL, RESEARCH AND EDUCATIONS. Advancing of the future pediatric and future parenting to optimalized physical, mental and social health and well being for fetal, newborn, infant, children, adolescents and young adult
“GRoW UP CLINIC JAKARTA” For Children, Teen and Adult Focus and Interest on:

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC”

  • Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967
  • Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician
  • Fisioterapis dan terapi okupasi lainnya

Clinical – Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2012, Picky Eaters and Grow Up Clinic, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s