Pemberian Imunisasi Polio dan Permasalahannya

Pemberian Imunisasi Polio dan Permasalahannya

Dinas Kesehatan DKI Jakarta tengah mendata bayi berusia di bawah lima tahun   (balita) untuk diimunisasi pada 31 Mei dan 28 Juni mendatang. Jumlah balita   itu mencapai 700 ribu orang (Kompas, 16 Mei 2005).

Hal ini dilakukan untuk mencegah merebaknya kasus polio yang tengah terjadi   di Sukabumi, Jawa Barat. Kegelisahan masyarakat Indonesia mungkin bukan hanya   timbulnya kembali kasus poilo, tetapi bagaimana cara pencegahan penyakit Poliomielitis   dan akan banyak lagi pertanyaan tentang permasalahan imunisasi Polio.

Infeksi polio terjadi di seluruh dunia, di Amerika Serikat tranmisi virus polio   liar berhenti sekitar tahun 1979. Di negara-negara barat, eliminasi polio sejak   tahun 1991. Program eradikasi Polio Global dapat menurunkan secara dramatis   angka kejadian polio liar diseluruh belahan dunia, kecuali India, Timur Tengah   dan Afrika. Di Indonesia tampaknya masyarakat dibuat panik dengan timbulnya   kasus polio yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah dilaporkan.

Penyebab penyakit ini adalah virus Polio yang terdiri dari 3 strain yaitu strain   1 (brunhilde), strain 2 (Lanzig) dan strain 3 (Leon). Strain 1 seperti   yang ditemukan di Sukabumi adalah yang paling paralitogenik atau paling   ganas dan seringkali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Virus Polio   termasuk genus Enteroviorus, famili Picornavirus. Penularan terutama   terjadi penularan langsung dari manusia ke manusia melalui fekal-oral (dari   tinja ke mulut) atau yang agak jarang lainnya melalui oral-oral (dari mulut   ke mulut). Tampaknya pencegahan terbaik penularan penyakit ini adalah dengan   melakukan Imunisasi Polio.

Rekomendasi Vaksinasi Polio

Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Departemen kesehatan mengeluarkan rekomendasi   pemberian Polio termasuk imunisasi yang diwajibkan atau masuk Pengembangan Program   Imunisasi (PPI). Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomandasi   WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu.   Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5 tahun dan usia 15 tahun atau sebelum   meninggalkan sekolah. Dalam keadaan adanya Kejadian Luar biasa Polio, maka dilakukan   Mopping Up. Artinya, strategi untuk memberikan ulangan Polio pada semua   anak di bawah usia 5 tahun di daerah tersebut meskipun imunisasi sebelumnya   telah lengkap. Vaksin polio terdiri dari 2 jenis , yaitu Vaksin Virus   Polio Oral (Oral Polio Vaccine=OPV) dan Vaksin Polio Inactivated (Inactived   Poliomielitis Vaccine).

Oral Polio Vaccine (OPV)

Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering   dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan   melalui mulut. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan.   OPV di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma Bandung. Komposisi vaksin tersebut   terdiri dari virus Polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup   tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan   jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak 2 tetes   mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak   lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

Virus dalam vaksin ini setelah diberikan 2 tetes akan menempatkan diri di usus   dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan   usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk.   Pemberian Air susu ibu tidak berpengaruh pada respon antibodi terhadap OPV dan   imunisasi tidak bioleh ditunda karena hal ini. Setelah diberikan dosis pertama   dapat terlindungi secara cepat, sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan   perlindungan jangka panjang.

Virus polio ini dapat bertahan di tinja hingga 6 minggu setelah pemberian vaksin   melalui mulut. Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran   virus vaksin selama 6 minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum   diimunisasi. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru di   imunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok   bayi.

Sehingga bila ada seorang kontak di rumah yang dalam keadaan kondisi tubuh   sedang turun, seperti pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) atau   pengobatan radiasi umum, penyakit kanker atau keganasan yang berhubungan dengan   sistem retikuloendotelial (seperti limpoma, leucemia, penyakit hodgkin),   anak dengan mekanisme imunologik terganggu misalnya hipogamaglobulinemia dan   penderita infeksi HIV atau AIDS, sebaiknya menghindar dari bayi atau anak yang   divaksinasi polio paling tidak selama 6 minggu sesudahnya.

Anggota keluarga yang belum pernah diimunisasi polio atau belum lengkap imunisasinya   dan mendapat kontak dengan anak yang mendapat vaksin OPV, sebaiknya harus ditawarkan   imunisasi dasar OPV pada waktu yang bersamaan dengan anak tersebut.

Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV)

Di Indonesia, meskipun sudah tersedia tetapi Vaksin Polio Inactivated   atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV   dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat   tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV   tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan   penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah.   Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada   sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.

Selain itu dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin   B. IPV harus disimpan pada suhu 2 – 8 C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian   vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan   dalam 4 kali berturut-turut dalam jarak 2 bulan.

Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan   OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai   daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.

Sejak tahun 1997 American Academy of Pediatric (AAP) dan Centers For   Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan   pemberian IPV untuk vaksinasi rutin pada semua bayi di Amerika Serikat. Sejak   itu dilaporkan Kejadian Ikutan Paska Imunsasi Polio sangat menurun.

Kejadian Ikutan Paska Imunisasi

Pada   umumnya reaksi terhadap vaksin dapat berupa reaksi simpang (adverse events),   atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi simpang   vaksin antara lain berupa efek farmakologi, efek samping, interaksi obat, intoleransi,   reaksi idiosinkrasi dan reaksi alergi. Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung   vaksin dapat terjadi karena kesalahan tehnik pembuatan, pengadaan dan distribusi   vaksin, kesalahan prosedur, tehnik pelaksanaan dan faktor kebetulan.

Kejadian ikutan paska imunisasi adalah semua kejadian sakit dan kematian yang   terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Kejadian ikutan paska imunisasi   Polio memang jarang ditemukan. Setelah pemberian vaksinasi OPV sebagian kecil   penerima akan mengalami gejala pusing-pusing, diare ringan dan sakit pada otot.   Lebih jarang lagi, diperkirakan setiap 2,5 dosis OPV yang diberikan dapat mengalami   kasus Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis   atau VAPP). VAPP merupakan kejadian lumpuh layu akut (AFP) 4 –   40 hari setelah diberikan vaksin OPV dengan sekuele neurologis susulan yang   mirip dengan polio setelah 60 hari. Sementara itu, kasus VAPP kontak terjadi   ketika virus yang berasal dari vaksin OPV (VDPV) diekskresikan dan menyebar   kepada anak-anak yang tidak diimunisasi atau anak-anak yang belum menerima OPV   secara lengkap.

Wabah VAPP di Mesir, Filipina, Republik Dominika, Haiti dan Madagaskar yang   dihubungkan dengan sirkulasi VDPV yang telah berubah bentuk menjadi neurovirulen   yang disebabkan karena perubahan genetik atau rekombinasi dengan enterovirus   non-polio. Di Thailand, strain VDPV yang diisolasi dari kultur tinja ditemukan   pada 3 dari 15 kasus AFP yang dilaporkan selama 5 tahun terakhir dengan 1 –   5 kasus lumpuh neurologis menetap yang terjadi 60 hari setelah pemberian OPV.   Namun, VAPP yang disebabkan OPV jarang terjadi pada daerah dengan cakupan imunisasi   lebih dari 90 % dan tingkat imunitas kelompok yang tinggi.

Menurut laporan Vaccine Safety Committee, Division of Health Promotion   and Disease Prevention, Institute Medicine National Academy of Science USA,   tahun 1994 terdapat bukti memperkuat penerimaan hubungan kausal bahwa OPV dapat   menyebabkan Sindrom Guillain Barre (GBS). Demikian juga di Turki   pada tahun 2003 pernah dilaporkan 5 penderita GBS setelah pemberian vaksinasi   OPV. Penyakit GBS adalah penyakit yang menyerang kelumpuhan kaki dan otot pernapasan   manusia, dimana penyebabnya masih belum diketahui secara jelas. Secara teoritis   vaksin hidup seperti OPV dapat berubah menjadi bentuk patogenik.

Resiko paling sering terjadi pada pemberian dosis pertama dibandingkan dosis   berikutnya. Resiko yang relatif sangat jarang tersebut memang tidak boleh diremehkan,   namun bukan menjadi alasan untuk menghindari pemberian vaksinasi OPV karena   pemberiannya terbukti sangat berguna untuk menghindari penyakit polio dan menurunkan   kasus polio di dunia. Untuk mengurangi kejadian ikutan paska imunisasi maka   sebaiknya harus memperhatikan secara cermat kondisi kesehatan penerima imunisasi.

Kejadian ikutan pada janin belum pernah dilaporkan, namun OPV jangan diberikan   pada ibu hamil 4 bulan pertama kecuali terdapat alasan mendesak misalnya bepergian   ke daerah endemis poliomielitis. Vaksin polio oral dapat diberikan bersama-sama   dengan vaksin inactivated dan virus hidup lainnya, tetapi tidak boleh diberikan   bersama vaksin tifoid oral. Bila BCG diberikan pada bayi, tidak perlu memperlambat   pemberian OPV, karena OPV memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan   cara replikasi dalam usus.

Di dalam vaksin polio OPV dan IPV mengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin,   polimisin, streptomisin) namun hal ini tidak merupakan kontra indikasi kecuali   pada anak yang mempunyai bakat hipersensitif yang berlebihan.

Tampaknya dengan era globalisasi dimana mobilitas penduduk dunia antar negara   yang sangat tinggi dan cepat mengakibatkan kesulitan dalam mengendalikan penyebaran   virus ini. Selain pencegahan dengan imunisasi polio, harus disertai dengan peningkatan   sanitasi lingkungan dan higiena sanitasi perorangan untuk mengurangi penyebaran   virus yang kembali mengkawatirkan ini.

Keadaan yang tidak boleh divaksinasi OPV (Menurut Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan Committees   on Infectious Diseases of the American Academy of Pediatric (AAP))

  • Penyakit akut atau demam (suhu lebih 38,5 C)
  • Muntah atau diare
  • Sedang menerima pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) dan pengobatan   radiasi umum (termasuk kontak penerima)
  • Penyakit kanker atau keganasan (termasuk kontak penerima) yang berhubungan     dengan sistem retikuloendotelial (seperti limpoma, leucemia, penyakit hodgkin)     dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu misalnya hipogamaglobulinemia.
  • Penderita infeksi HIV atau AIDS (termasuk kontak penerima)

 

REFERENSI :

  • World Health Organization. Surveillance of adverse events following Immunization.   Filed guide for managers of Immunization programmers. Geneve WHO, 1997.
  • American Academy of Pediatric. Summaries of Infectious diseases, polio infection.     Red Book 2000. Report Committee on Infectious Disease. Elk Grove Village.     465-70.
  • Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and prevention   of vaccine preventable diseases, 1999. 85 – 104.<
  • uku Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia,   tahun 2001.
  • Anlar O, Tombul T, Arslan S, Akdeniz H, Caksen H, Gundem A, Akbayram S   Report of five children with Guillain-Barré syndrome following a nationwide   oral polio vaccine campaign in Turkey Neurologi India. 2003 : 51/4 ; 544-545.

 

 

.

www.mediaimunisasi.com

Provided By:
MEDIAIMUNISASI.COM Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 29614252 email : judarwanto@gmail.com
Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online

Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, MEDIA IMUNISASI Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s